Sabtu, 09 Agustus 2008

orang-orang misterius

,… Andakah Juga…? “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, Maka hendaklah ia mengerjakan ‘amal shaleh Dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun Dalam beribadah kepada Rabbnya”(Qs. Al kahfi : 17, 110. Ini adalah cerita Ihwal sekelompok orang, mungkin mereka tidak saling kenal, namun.. mereka memiliki prilaku yang sama seperti suka berlama-lama sholat malam, suka menangis tetapi menyembunyikan dari penglihatan orang banyak, dan suka sekali membayangkan pertemuan dengan Rabbnya….alangkah indahnya….!! Salah seorang diantaranya adalah yang di ceritakan Muhammad bin wasi’ rekannya suka sekali bermunajat di malam hari sampai bulir-bulir air matanya jatuh…bagai hujan, meskipun demikian ia rapi menyembunyikan semua itu. ia mampu menjaganya sampai bertahun-tahun dan pada tahun ke-21 istrinya baru tahu bahwa suaminya suka menangis di malam hari, ia merahasiakan tangisnya selama 20 tahun semata-mata karena takut Riya’ Ruh dari ‘Ibadah dan Amal Shalih’ Setiap amal perbuatan manusia, baik ibadah maupun amal shalih, hanya di terima Allah SWT jika disertai dengan ikhlas.

Ikhlas adalah semata-mata mencari ridha Allah SWT dan tidak mempedulikan manusia sedikitpun, oleh sebab itu, “Manusia-manusia Misterius” itu konsisten dengan sikapnya baik kala sendirian ataupun ketika bersama dengan orang banyak. Ia tidak punya sebersit keinginan pun untuk mengabdikan amalannya kepada makhluk. Itu pula yang mendorongnya untuk menyembunyikan yang ia lakukan, malahan tidak sekedar menyembunyikan. Tetapi sudah merahasiakan kepada siapapun hatta kepada istrinya sekalipun. Orang terdekat mereka. Merekapun sangat menghawatirkan dirinya (keluarganya) dari siksa Neraka. Mereka memahami bahwa tiga orang yang pertama yang dinyalakan bagi mereka Neraka di hari kiamat adalah Qari’(penghafal Al Qur’an), orang yang menginfakkan hartanya pada hala-hal yang terpuji, dan mujahid fii sabililla. Mereka dimasukkan ke Neraka karena tidak berharap kepada ridho Allah SWT dari amal yang mereka kerjakan (Diriwayatkan oleh Muslim) Lalu Ikhlas itU,,,,?

“Orang-orang Misterius “ itu takut di hukum Allah SWT, maka mereka rahasiakan amal-amal mereka. Demikian pulalah yang mereka ajarkan kepada keluarga, kerabat, dan murid-muridnya agar belajar menyembunyikan ‘amalnya dari makhluk. Imam Al-jailani mengatakan, Beramal-lah dengan Ikhlas dan jangan lihat seluruh amal perbuatanmu, yang di terima adalah amal perbuatan yang kalian proyeksikan untuk mengharap keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia. Engkau celaka jika beramal untuk manusia, namun engkau berharap amal perbuatanmu di terima Allah, itu perbuatan gila… Melakukan segala sesuatu, baik yang menjadi bahagian dari ibadah maupun segala perbuatan terpuji yang menjadi bahagian muamalah dan aktivitas keseharian, harus dimaksudkan untuk mencari kerhidaan dan kerelaan Allah SWT. Dengan demikian…..kita tentu saja tidak akan melakukan ‘amal-‘amal itu secara sembarangan dan asal-asalan saja. Kita akan melakukan yang terbaik, karena semua hasil yang kita inginkan bukanlah Hasil-hasil duniawi yang fana, tetapi yang kita inginkan…..ridha Allah SWT.

Maka bayangkanlah bagaimana jika Allah SWT sudah ridha terhadap seseorang? Allah SWT akan menjaganya, akan memenuhi keperluannya sekalipun tak meminta, melimpahinya dengan rahmat, dan…bersua dengannya di hari Akhir. Jadi….betapa hinanya nilai dunia dan kerelaan makhluk! Oleh sebab itu ikhlas adalah syarat mutlaq diterimanya ‘amal seorang Bani Adam. “padahal mereka hanya diperintah beribadah kepada Allah, dengan ikhlas mentaatinya semata-mata karena (menjalankan) agama (QS. Bayyinah : 98 ) Simaklah penegasan Nabi Muhammad Saw,……… “Allah tidak menerima amal melainkan amal yang ikhlas dan yang karena (dimaksudkan,pen) untruk mencari ridha Allah SWT. (HR. Ibnu Majah)

Cermati pula pelajaran dan taushiyyah yang diterima Abu ‘Aliyah, ahli hadits dan seorang tabi’in, mengatakan, “Shahabat-shahabat Muhammad Saw berkata kepadaku, “Engkau jangan ber’amal karena selain Allah SWT. Jika itu engkau lakukan, Allah ‘azza wajalla akan menyerahkanmu kepada pihak yang menjadi tujuan ‘amalmu” Tanda-tanda “Orang-orang Misterius” “Orang-orang Misterius itu” memiliki tanda-tanda tertentu. Petanda itu sangat sering muncul pada generasi shahabat kemudian generasi sesudahnya, generasi tabi’in. demikian pula halnya dengan generasi tabi’it-tabi’in tanda-tanda itupun sering muncul.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dimana makin beragamnya godaan dunia dan makin lemahnya kemauan untuk mempelajari tuntunan Islam, maka tanda-tanda itu mungkin semakin susah kita temukan pada diri seseorang.dan oleh sebab demikian gigih dan kerasnya “orang-oang misterius” itu merahasiakan perbuatannya, maka tanda-tanda itu semakin sulit lagi ditemukan pada diri seseorang. Tetapi tanpa bermaksud menghibur, semoga saja bukan karena tiadanya Orang-orang Misterius di zaman ini. Semoga saja masih sangat banyak “Orang-orang Misterius” di masa kita ini. Kita tidak tahu dimana mereka, karena sedemikian makin pintarnya mereka menyembunyikan ‘amal shalih dan Ibadah mereka.

Semoga demikian kenyataannya. Misalnya seorang kawan menceritakan seorang Ustadz yang setiap awal bulan di depan pintu rumah mungil kontrakannya (hampir) selalu di temukan sebuah amplop yang berisi uang beberapa ratus ribu. Mungkin karena si salah satu dari “Orang-orang Misterius “ ini menghormati dan sangat menghargai gaya kehidupan Ustadz berputra banyak ini. “mudah” tak banyak menyimpan uang di saku dan laci mejanya, sekalipun ia seorang anggota parlement propinsi. Ia masih sering bersama istrinya menaiki sepeda untuk pergi ke suatu tempat. Tangannya pun mudah mengulurkan “manifestasi” Ukhuwwah Islamiyyah maupun Ukhuwwah Basyariyyah. nah……..mungkin pula sang Ustadz juga menjadi “Orang-orang Misterius” dalam ‘amal-amalnya yang kita tidak kita ketahui.

Mungkin juga termasuk anda??? Semoga, bi idznillah!! Menurut Ibnu Al-jauzi mereka memiliki cirri-ciri, “Adakalanya yang khusyu’ dikatakan orang rajin ibadah, orang diam dijuluki orang yang takut kepada Allah SWT, dan orang yang benci dunia dianggap sebagai orang zuhud. Tanda-tanda orang ikhlas adalah kondisinya tidak berubah saat sendiri dan saat bersama orang lain. Terkadang ia memaksa menebar senyum dad kesenangan pada manusia, agar predikat orang zuhud hilang darinya. Ibnu sirin tertawa pada siang hari. Jika malam datang ia seperti membunuh semua penduduk desa” Bagi mereka “Orang-orang Misterius” itu, manusia bukanlah sosok yang amsuk dalam perhitungan mereka.

Mereka hanya risau da gelisa oleh pandangan Allah SWT kepada mereka, oleh karena itu munajat malam mereka senantiasa dihiasi dengan menangis, perasaan gundah gulana, ketakutan yang sangat sekaligus berharap hendak kepada-Nya. Sebagian diantara mereka sampai tertidur dalam keadaan sujud. Dan hanya itulah saat-saat tidur mereka. Menurut Ibnu Al-Qayyim, “Amal perbuatan paling baik adalah engkau tiak memperlihatkannya kepada manusia, karena ikhlas dan juga dari pandangan diri sendiri dan manusia tidak punya peran di dalamnya. Mereka, “Orang-orang Misterius” itu, tidak pernah berlelah-lelah mengejar simpati manusia, terpikirpun tidak.

Merka tidak memaksudkan segala ‘amal kebajikan mereka untuk di puji dan di sanjung. Mereka mudah sekali melupakan budi baik dan Akhlaqul-karimah mereka kepada manusia. Namun bersamaan dengan itu mereka selalu mengingat kesalahan dan kelalaian yang mereka buat kepada oang lain. Mereka mudah memohon maaf dan menerima kritik.

Mereka orang-orang yang “Mudah” “Orang-orang Misterius” itu sangat bergirang hati jika matahari berungsut pergi dan malam mulai menjelang. Mereka adlah pencinta-pencinta malam, mereka bahagia dalam “Dialog” Dengan Allah SWT dengan munajat-munajat malam. Sebaliknya jika mereka lalai melewati malam tanpa shalat malam, maka seharian itu wwajah mereka menampakkan kemurungan yang sangat. Tak akan tampak sedikitpun, rona suka atau gembira di wajah mereka. Barangkali itu hanya sebahagian tanda-tanda mereka. Itulah “Orang-orang Misterius” semoga anda adalah bahagiam dari mereka, tetaplah rahasiakan semua ‘amal itu.

Allah akan bersama kita. Sebahagian dari mereka… Apabila Muhammad bin Wasi’ seorang generasi tabi’in menceritakan seorang rekannya yang berusaha sungguh-sungguh selama 20 tahun utnuk menyembunyikan tangis munajat malamnya, maka lain halnya dengan Ayyub As-sakhtyani, seorang tabi’in juga. Ia pernah berkata, “Demi Allah ! jika seseorang jujur (Shiddiq), ia lebih senang tidak tahu tempat dirinya, “Mengenai Ayyub As-sakhtiyani, Hammad bin Zaid, seorang ahli hadits mengkisahkan “Kadang Ayyub menceritakan salah satu hadits, lalu ia terpengaruh olehnya, Ia menoleh dalam keadaan hidung beringus dan (ia, pen) berkata “Ah,pilek ini sungguh berat!! Ayyub berlagak seperti Pilek untuk merahasiakan tangisnya, sebab berharap menjadi salah satu dari orang-orang yang di naungi Allah Swt, di bawah naungan-Nya saat tidak ada naungan selain naungannya” Jika salah seorang dari generasi tabi’in itu tidak mungkin berlagak sakit untuk merahasiakan air matanya, (maka, pen) Ia berdiri sebab khawatir air matanya diketahui banyak orang. Kisah Al-Mawardi mungkin tak akan kita temukan dalam diri penulis di Era “Amerika” ini, Dalam kisah perjalanan hidupnya dituliskan bahwa tidak ada satupun buku-buku karyanya yang muncul di saat Ia masih hidup

Tidak ada komentar: